Saturday, May 16, 2026

Kepada Angin Aku Berbicara

Kepada angin malam aku berbicara
bawalah risih ini menghujam ke udara
biar dingin malam menyejukkan hatiku

Katamu dan kata dia memerah tenaga
mahumu dan mahu dia sejajar
biar ada jeda
tetap saja berpapasan

Menatap wajahmu dan wajah dia
memenggal senangku yang tadinya bahagia
Sembari menahan nafas,
ada seribu wajah yang akan kubawa
agar mengubat sakit yang kusimpan dalam senyum
memeluk diri sendiri
dengan menyemak sebatas apa sabarku
menjauh dan memutar-mutar jam dinding
Kuharap masa tidak akan berjalan mundur
dan jauh dari kutukan

Maka akan kusudahi dengan kata
"akan aku cuba"
melewati dengan sabar
Sabana yang panjang ini

Aku Ingin Menjadi Ikhlas

Telah kusiapkan
satu daerah dalam hatiku
yang tanahnya kuakari 
dengan Dandelion putih
Nanti pada saat terpuruk
paling rapuh
Aku dapat berpaut padanya
Terbang melayang bersama
bertahan
Kerana itu satu-satunya pilihan
Setelah disabdakan dengan kata
"Mencuba"

Aku ingin menjadi ikhlas
Seperti Dandelion
Kekal bertahan
Sampai akhirnya

Aku Ingin Menjadi Dandelion

Kagum aku Dandelion
Pada saat paling layu dan rapuh
Ia tetap percaya pada angin
Kerana itu satu-satunya pilihan
Yang akan membawa harapannya
Untuk kekal 
Mampu bertahan
Melayang-layang 
Hingga jatuh pada
Tanah
Rekahan
Celahan

Antara nasib dan takdir
Ia memilih untuk bertahan
Berkulit atas tanah
Menyiapkan Pappusnya
Sehingga tiba saat
Paling Rapuh
Ia pergi 
Sekali lagi
Membawa harapan yang sama
Untuk Kekal bertahan

Aku ingin menjadi ikhlas
seperti Dandelion
Kekal bertahan
sampai akhirnya

Kepada Angin Aku Berbicara

Kepada angin malam aku berbicara bawalah risih ini menghujam ke udara biar dingin malam menyejukkan hatiku Katamu dan kata dia memerah tenag...