di jalan kering dan kontang
yang debunya berterbangan
terasa bernyawa
terpapar meruap ke udara
menyesakkan dada
Filosofi luka begitu pula duka
Mengajar,
Dunia bertumbuh berputar
bersekali dengan banyaknya tangis sendu
yang lama tertahan untuk luruh
Seperti musim semi di bulan Mei
langitnya rencam bersilih hujan dan panas
Aku mahu berlari bersembunyi dalam jam tua
di dinding Kota lama tinggalan orang
Membiar waktu menyembuhkan luka
Namun waktu terlalu jujur
Aku terjerat tergantung lama di Kota waktu
Semua rancu dalam aba-aba yang menekan
waktu terpasung datar
seolah tak mahu pergi
begitu lihai menjebakku
hingga tak tahu arah kembali
Lukaku masih bernyawa
Utuh sepertinya tak lagi tahu
bagaimana cara untuk sembuh
No comments:
Post a Comment